Rabu, 30 November 2016

my earth

Namanya Meli. Dia kini duduk di kelas 8, di sebuah sekolah ternama di kotanya. Dia tidak terlalu menyukai hal-hal realistis yang membuatnya harus berfikir sampai jenuh. Bahkan dunia khayalnya kadang-kadang melebihi batas.
Meli hanya suka satu materi pelajaran. Yaitu tentang Antariksa, seperti: tata surya, matahari, galaksi, dan yang sejenis. Cita-citanya bahkan ingin menjadi astronot. Dunia antariksa selalu membuatnya penasaran.
Malam itu, Meli sedang duduk di gazebo yang ada di samping rumahnya. Dia sedang mengerjakan PR di situ. Malam itu bulan purnama. Bintang-bintang bertaburan di langit. Indah sekali. Meli memandang ke atas dan melihat semua itu.
Sebuah benda berwarna merah nampak seperti bintang ikut menemani bulan. Bukan, itu bukan bintang. Itu planet Mars. Ada lagi benda lain yang ia lihat dan tampak aneh meskipun samar-samar. Sebuah benda langit yang nampak bercincin.
“Saturnus?. Apa? aku dapat melihatnya” katanya girang.
Kedua planet itu tampak lebih besar dan terlihat jelas. Meli melihat sebuah benda lagi yang terbang dan cukup panjang. Sepertinya itu komet.
Meli sangat girang. Ia dapat melihat benda-benda itu. Saat Meli hendak masuk ke dalam rumahnya, sebuah benda berwarna biru muncul. Sejenis planet. Bumi. Tidak! Dia ada di Bumi, bagaimana ia bisa melihat bumi yang sedang ia pijak itu ada di langit?. Benda itu semakin membesar dan mendekat ke arahnya. Dia tidak bisa pergi ke manapun. Kakinya seperti tertancap ke tanah. Benda itu semakin mendekatinya.
“Hah…? Tuhan, tolong aku” ucap Meli merapatkan kedua tangannya. Namun semakin benda itu mendekati Meli, semakin mengecil ukurannya. Dan akhirnya benda itu jatuh di dekat kaki Meli dan hanya sebesar genggaman tangan saja.
Benda itu bulat. Tidak. Tengahnya agak menggembung. Warnanya biru. Persis seperti Bumi. Meli mengambilnya dan mengamatinya. Langsung ia bawa ke dalam rumah.
“MELI BANGUN SUDAH SIANG!!” Bunda Meli berteriak membangunkan Meli.
“Ya Bun, ini Meli bangun” Meli segera pergi ke kamar mandi dan berpakaian rapi bersiap untuk ke sekolah. Kemudian ia ingat sesuatu. Benda itu. Dia membuka sebuah kotak. Benda itu ada di situ. Ia tidak bermimpi!. Ia membawanya dan segera berangkat sekolah.
Saat istirahat, ia pergi ke gudang. Membuka kotak itu. Benda itu bersinar. Terang sekali.
“Apa ini planet kembaran bumi? Ah aneh!”
Meli menemukan belahan dalam benda itu. Ia membukanya. Susunannya sama seperti bumi. Di situ ada tulisan “Bumi, Bumi, Bumi. Selamatkan Bumi”.
Meli membaca tulisan itu. Tiba-tiba berdiri seseorang di belakangnya. Orang itu mirip sekali dengan Meli.
“S..siapa kau?” tanya Meli.
“Namaku Viki. Aku adalah kembaranmu. Aku berasal dari planet kembaran Bumi. Bumi ini sudah tua. Kalian para manusia selalu merusaknya. Dan planetku juga ikut menanggungnya. Kami membenci kalian” katanya. Meli sangat takut.
“Apa maumu?”
“Kau harus perbaiki planetmu. Entah bagaimana caranya. Jika bola itu tetap seperti itu ukurannya, kau tidak melakukan perbaikan itu. Jika bola itu mengecil, usahamu berhasil. Bola itu akan mengecil seiring usahamu. Jika bola itu lenyap, maka kau berhasil. Jika dalam 1 bulan bola itu masih ada, kalian akan menanggung masalah” kata Viki kemudian menghilang.
Sejak saat itu, Meli mulai menjaga Bumi. Menjaga kebersihan, tidak menggunakan AC secara berlebihan, tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, bahkan ia juga mengajak dan memberi usul kepada kepala sekolahnya untuk melakukan kerja bakti setiap hari Jum’at. Bola itu juga perlahan mengecil.
“Tapi, apa aku bisa? Bumi ini luas dan aku hanya melakukannya di sekitarku” gumam Meli.
“Kau melakukannya dengan baik. Satu juga tidak masalah daripada tidak ada. Tapi Meli, waktumu kurang 12 jam lagi dan bola itu masih ada” kata Viki.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Meli.
Namun Viki menghilang. Meli memikirkan hal itu semalaman. Tidurnya pun tak nyenyak. Bahkan ia tidak bisa tidur. Akhirnya ia berfikir.
“Bumi tidak hanya mendapat bahaya dari dalam, tetapi juga dari luar. Bisa saja tertabrak planet lain, atau hujan meteor. Mungkin itu. Ya aku harus berdoa kepada Tuhan” katanya. Ia akhirnya mulai berdoa dan bergegas tidur.
“Meli kamu mau seharian tidur hah?” Bunda membangunkan Meli.
“Bunda, aku baru tidur. Semalam aku tidak bisa tidur” kata Meli.
“HAH? Kamu tidur sehabis isya kemarin. Bunda membangunkanmu tapi tak bisa. Sampai ayahmu yang menggendongmu ke kamar ini” kata Bunda
“Hah?”
“Sudah, cepat! Sudah jam 8 dan anak gadis sepertimu baru bangun?”. Bunda meninggalkan Meli.
“Jadi, itu hanya mimpi?” gumam Meli.
Ia bergegas membuka kotak itu. Ada selembar kertas bertuliskan “TERIMAKASIH MELI, TELAH MENJAGA BUMI. SAMPAI JUMPA. Viki”
Meli semakin bingung. Dia akhirnya tak menjadikan itu masalah. Justru membuatnya semangat untuk menjaga Bumi.

hadiah terindah

Jam berdentang satu kali. Teriknya matahari tidak mencegah ayah Tono untuk tetap bekerja. Tono tinggal bersama ayah dan ibunya di desa dan pekerjaan ayah Tono adalah mencari kayu untuk dijual dengan melakukan pembalakan liar. Ayah Tono tahu bahwa pekerjaannya tersebut merupakan pekerjaan yang ilegal. Ayah Tono juga tahu bahwa perbuatannya bisa menyeret dirinya ke balik jeruji besi. Namun, hanya itu pekerjaan yang dapat dilakukan ayah Tono untuk menghidupi keluarganya.
“Tono, cepat panggil ayahmu untuk makan siang dan lanjutkan pekerjaannya nanti,” kata ibu Tono.
“Ya Bu,” jawab Tono sambil berlari mengambil sepedanya dan mencari ayahnya.
“Ayah, mari kita makan siang dulu!” seru Tono setelah menemukan ayahnya..
“Ya.”
Maka Tono dan ayahnya pulang ke rumah mereka. Tono sebenarnya sedih melihat ayahnya melakukan pekerjaannya tersebut, tetapi meski sudah berkali-kali Tono sarankan pada ayahnya untuk mencari pekerjaan lain, ayahnya tetap melakukan pembalakan liar.
Sesampainya di rumah Tono kembali mencoba untuk menyarankan pada ayahnya supaya ayahnya bisa mencari pekerjaan lain.
“Ayah, apakah Ayah tidak bisa cari pekerjaan lain?”
“Pekerjaan lain apa maksudmu?”
“Pekerjaan yang lebih baik.”
“Tono, dengar ya hanya ini yang bisa Ayah lakukan, Ayah tidak punya modal apapun untuk melakukan pekerjaan lain.”
“Tapi,”
“Sudah syukuri saja apa yang Ayah kerjakan sekarang, lebih baik kamu belajar saja untuk persiapan sekolahmu besok.”
“Baiklah.”
Tono menimba ilmu di suatu sekolah yang tidak dikenakan biaya sepeser pun, karena tersebut diselenggarakan khusus untuk masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah.
Keesokan harinya, Tono belajar IPS di sekolah yaitu tentang pemanasan global.
“Sekarang ini, bumi kita telah dilanda oleh pemanasan global, ada yang tahu artinya?” tanya guru Tono di kelas, tetapi tidak ada satu pun yang menjawab.
“Jadi pemanasan global adalah ozon yang menipis dan ozon adalah lapisan yang melindungi bumi dari sinar matahari, sehingga bumi tidak terkena sinar sang Surya secara langsung,” jelas guru Tono.
“Apa penyebabnya Bu?” tanya salah satu teman Tono
“Banyak penyebabnya dan salah satunya adalah hutan yang gundul akibat penebangan liar.”
Mendengar kata-kata itu, Tono merasa sedih karena dia teringat atas pekerjaan ayahnya.
Sepulang sekolah Tono menceritakan hal itu pada ayahnya.
“Ayah, tadi aku belajar IPS tentang pemanasan global.”
“Lalu?”
“Kata guruku itu diakibatkan oleh penebangan liar.”
“Lalu, apa yang ingin kamu katakan?”
“Bisakah Ayah berhenti menebang pohon?”
“Nak, sudah Ayah katakana kemarin bahwa hanya itu pekerjaan yang bisa Ayah lakukan.”
“Tapi, itu merusak planet kita.”
“JIka Ayah tidak bekerja maka kamu tidak bisa mendapat sesuap nasi, cukup jangan bicarakan ini lagi!”
“Baiklah.”
Sesampainya di rumah, Tono menceritakan tentang pemanasan global pada ibunya juga.
“Ibu?”
“Ya, ada apa?”
“Apakah Ibu tahu tentang pemanasan global?”
“Tentu Ibu tahu.”
“Apa Ibu tahu penyebabnya adalah orang seperti ayah?”
“Apa maksudmu?”
“Pekerjaan ayah menebang pohon, dan kata guruku pemanasan global salah satu penyebabnya adalah penebangan liar.”
“Tono, memang itu salah satu penyebabnya, tapi itulah pekerjaan yang bisa dilakukan ayahmu, bukankah dia pernah menjelaskan ini padamu?”
“Iya pernah.”
“Ya sudah lah, kamu syukuri saja, banyak orang yang hanya melamun karena tidak punya pekerjaan.”
“Tapi Bu, apakah ayah tidak bisa cari pekerjaan lain?”
“Ibu juga inginnya begitu, tapi kamu berdoa saja, supaya ayah bisa dapat pekerjaan yang lebih baik.”
“Ya Bu.”
Keesokan harinya, guru Tono memberikan tugas kelompok untuk murid-muridnya, sehingga Tono haruss pergi ke rumah temannya.
“Ayah, hari ini aku harus pergi ke rumah temanku.”
“Rumah siapa?”
“Rumah Doni, nanti Ayah jemput aku ya.”
“Jam berapa?”
“Kira-kira jam 04.00 sore.”
“Ya.”
Jam berdentang 4 kali, artinya ayah Tono harus segera menjemput Tono di rumah Doni. Sesampainya di rumah Doni, orang tua Doni sedang menonton salah satu acara televisi tentang mulai mencairnya es disebabkan karena panasnya bumi, dan panas bumi disebabkan oleh hutan yang gundul, tetapi apa boleh buat itulah pekerjaan ayah Tono.
“Tono?”
“Ya Ayah?”
“Apa menurutmu Ayah bisa memperbaiki kesalahan Ayah?”
“Kesalahan apa Ayah?”
“Kesalahan Ayah menebang pohon secara liar.”
“Tentu Ayah bisa.”
“Bagaimana caranya?”
“Itu mudah, pertama Ayah harus berhenti dari pekerjaan Ayah yang sekarang dan kedua Ayah harus banyak menanam.”
“Jika Ayah tidak bekerja, lalu bagaimana Ayah menghidupi kamu dan ibumu?”
“Ayah harus cari pekerjaan lain.”
“Tapi, Ayah tidak punya modal apapun.”
“Setidaknya, sekarang ini Ayah harus mengurangi penebangan pohon yang Ayah lakukan, Ayah tebangi saja pohon yang sudah tua.”
“Tapi, jika Ayah hanya menebang pohon yang tua, itu hanya memberi sedikit penghasilan.”
“Tenanglah Yah, Ayah harus terus berdoa supaya mendapat pekerjaan yang lebih baik, dan aku juga sudah mulai menabung, lagi pula pohon yang tua harganya kan justru lebih mahal.”
“Tono, kamu memang anak yang baik, Ayah tidak akan menebang dengan liar lagi.”
Sejak saat itu ayah Tono mengurangi penebangannya, tapi seperti yang dia katakan, penghasilannya menjadi berkurang, maka ayah Tono mulai menebang secara liar lagi, dan Tono mengetahui hal itu.
“Ayah, mengapa Ayah menebang secara liar lagi?”
“Ayah sudah pernah bilang padamu bahwa itu hanya menghasilkan sedikit uang, memang kayu yang sudah tua harganya lebih mahal, tapi hanya sedikit kayu tua di hutan, jadi Ayah harus menebang pohon yang muda juga.”
“Tapi, Ayah sudah berjanji.”
“Maafkan Ayah, Nak, Ayah sudah berdoa, tetapi masih belum juga mendapat jawaban.”
Mendengar hal itu Tono sangat sedih dan hanya bisa terdiam.
Sore itu, karena besoknya adalah hari libur, maka diadakan acara jalan santai untuk seluruh penduduk desa, dan di pengumuman itu dituliskan bahwa acara tersebut disertai doorprize dan bebas biaya. Melihat hal itu, Tono tertarik untuk ikut maka ia pulang dan memberi tahu ibunya dan ayahnya.
“Ibu!”
“Ya?”
“Di mana Ayah?”
“Ada apa?”
“Tadi aku lihat pengumuman dan besok ada acara jalan santai, kita ikut ya Bu, ada doorprizenya juga, kalau dapat bisa untuk modal ayah.”
“Ya, beri tahu ayahmu.”
Maka Tono memberi tahu ayahnya.
“Ayah, besok ada acara jalan santai, kita ikut ya.”
“Berapa biayanya?”
“Tidak dikenakan biaya.”
“Baiklah.”
Maka keesokan harinya Tono, ayahnya, dan ibunya pergi mengikuti acara tersebut. Karena Tono bertiga, maka mereka mendapat 3 nomor undian. Akhirnya, setelah jalan santai, acara yang ditungu-tunggu pun tiba, pembacaan nomor undian. Satu per satu nomor dibacakan dan Tono belum mendengar salah satu dari nomornya dibacakan. Akhirnya, nomor Tono disebut ketika hadiahnya sepeda motor. Tono dan keluarganya sangat senang.
“Ayah, apa yang akan kita lakukan dengan sepeda motor ini? Tanya Tono sesampainya di rumah.
“Entahlah.”
“Bagaimana kalau kita jual?”
“Untuk apa?”
“Jadi uangnya bisa Ayah gunakan untuk modal usaha kecil-kecilan.”
“Itu ide bagus.”
Maka motor itu pun terjual, tetapi ayah Tono masih bingung usaha apa yang akan dia kembangkan.
“Tono?”
“Ya Ayah?”
“Menurutmu usaha apa yang Ayah harus rintis?”
“Sebaiknya usaha yang bisa menyelamatkan bumi.”
“Usaha apa itu?”
“Toko bunga.”
“Bagaimana usaha itu bisa menyelamatkan bumi?” tanya ayah Tono dengan bingung karena mendengar ide Tono.
“Tentu saja, karena kita menanam bunga..”
“Lalu?”
“Dengan menanam kita menambah lapisan ozon dan bunganya bisa kita jual.”
“Apakah uangnya cukup?”
“Tentu saja, Ayah?”
“Ayah tidak yakin itu akan sukses.”
“Kita harus yakin, Ayah.”
“Baiklah, Ayah percaya padamu.”
Maka mereka pun memulai usaha mereka. Awal-awal memang usaha mereka tidak terlalu lancer, tentu banyak juga masalah seperti tidak ada pelanggan, tetapi lama kelamaan usaha mereka dapat berjalan dengan lancar. Ayah Tono juga melakukan reboisasi kecil di hutan yang dulu ditebanginya. Sedikit demi sedikit hal itu mengurangi pemanasan global.
“Ayah, aku sudah katakan usaha ini akan sukses.”
“Iya, Ayah mengambil keputusan yang benar untuk mempercayaimu.”
“Ini semua karena hadiah sepeda motor dari acara waktu itu.”
“Bukan, Nak, ini karena kamu.”
“Karena aku?”
“Ya, karena kamu, Ayah bisa mempunyai keyakinan untuk memulai usaha baru dan memperbaiki kesalahan Ayah, kamu adalah hadiah terindah dari Tuhan yang pernah Ayah dapatkan, Ayah sangat bangga padamu,” kata ayah Tono sambil memeluk Tono
“Terima kasih Ayah, untuk semuanya.”
Maka dengan sadarnya ayah Tono, pemanasan global akan berkurang, meskipun hanya sedikit, tetapi jika setiap orang di dunia melakakukan penanaman kembali dan membuang sampah pada tempatnya, maka dampak positif yang besar akan terjadi di bumi ini.

film itu berjudul hijau

Bising kendaraan seakan menjadi soundtrack di setiap perjalananku. Debu dan polusi menjadi pemeran utama di setiap pertunjukkan. Sesekali muncul tayangan jalanan macet ketika break komersial. Kotaku tak seindah dulu lagi. Kotaku dipenuhi sesak kendaraan dan debu. Tak seperti dulu lagi, kini kotaku tak seindah dongeng kerajaan yang kerap diceritakan ibuku sebelum tidur.
Kota ramah lingkungan adalah impianku. Entah kenapa aku selalu ingin melihat film dengan pemandangan pohon yang rindang sebagai framenya. Setiap jalanan kota dihiasi dengan pohon yang rindang, bukan hanya di satu sisi jalan, tapi juga di kedua sisinya. Aku sangat ingin kotaku memiliki pusat taman kota yang indah. Tak perlu banyak. Cukup satu tapi menjadi yang terindah. Memiliki daya tarik yang sangat kuat dan didesain dengan semenarik mungkin. Aku ingin duduk di dalamnya dan bersantai menikmati sunset di setiap sore. Andaikan saja taman kotaku bisa senyaman kamarku. Ruang yang memberi kenyamanan, ketentraman, dan kesejukan sehingga aku bisa melupakan semua kepenatan dalam sekejap.
Ketika memasuki pintu taman aku ingin disambut dengan dayang-dayang yang mengipasiku dengan ranting-ranting dan dedaunannya yang rimbun. Menyusuri jalannya yang panjang sambil bersiul menyauti kicauan burung. Aku ingin tamanku tak hanya dihuni oleh diriku sendiri. Kuharap dapat mendengar nyanyian burung di pohon, obrolan katak di parit, dan hembusan nafas dari dedaunan kala ku menyusurinya. Canda tawa anak-anak yang bermain dan tatapan mengawasi dari orangtua yang membawanya juga akan menjadi hiburan bagi setiap pengunjung.
Terkadang tetesan keringat juga mengalir dari tubuh sekumpulan anak muda yang sedang bermain basket, futsal, dan bersepeda di taman. Senyuman anak-anak ketika bermain petak umpet dan gobak sodor menjadi daya tarik sendiri untuk meramaikan alunan cerita di film ini. Aku ingin sekali bisa duduk di bawah pohon yang rindang dan di atas rumput yang hijau menikmati secangkir udara yang segar dan angin sepoi-sepoi sambil menonton film yang sedang diputar. Diterangi langit yang biru dan ditemani beberapa sahabat.
Ibuku pernah berkata bahwa rusaknya moral bangsa bukan karena gadget yang dimilikinya, tapi karena lapangan luas yang tidak dimilikinya. Orang bilang Indonesia Tanah Air Beta, tapi ruang publik untuk bermain pun tidak tersedia. Kata Ibuku dahulu Indonesia punya banyak cerita tapi kini bagiku semuanya tinggallah kenangan yang tak terlupa. Kata ibuku zaman dulu banyak permainan yang bisa dimainkan untuk menumbuhkan persahabatan, tapi kini semua permainan di gadget hanya untuk memusnahkan persahabatan. Kenapa tidak? Di dalam permainan zaman sekarang tujuannya adalah untuk menjadi yang terhebat di antara teman sejawat. Pembicaraan saja hanya melewati lalu lintas chat.
Aku ingin kembali memutar film lama. Film yang mengisahkan persahabatan ditengah tatanan kota yang indah. Menjadi modern itu penting tapi mempertahankan kelestarian alam alangkah lebih indahnya. Aku ingin kotaku memiliki ruang publik yang luas agar aku bisa bernostalgia di tengah kerumunan gedung yang bertingkat.
Aku ingin membuat sebuah skenario yang mengisahkan seseorang yang sangat mencintai lingkungannya. Aku ingin dia menikah dengan orang yang memiliki kecintaan yang sama terhadap lingkungan. Ketika mereka menikah nanti mereka akan memiliki anak-anak yang mempunyai kesamaan dalam mencintai lingkungan seperti orangtuanya. Saat itu mereka akan menjadi keluarga yang mencintai lingkungan. Bayangkan jika semua orang berada dalam keluarga yang mencintai lingkungan. Mereka berkumpul di dalam sebuah komplek dan menghasilkan perumahan yang cinta lingkungan. Bayangkan kembali kalau di sebuah kelurahan berisi banyak perumahan yang cinta lingkungan, maka mereka akan menciptakan kelurahan yang cinta lingkungan. Ketika kelurahan tersebut berkumpul dengan kelurahan-kelurahan lain yang sama-sama mencintai lingkungan maka mereka akan membentuk yang namanya kecamatan cinta lingkungan. Dan akhirnya mereka berada di lingkungan yang berisi sekumpulan kecamatan yang cinta lingkungan maka terwujudlah Kota yang cinta lingkungan dan menghasilkan kota ramah lingkungan.
Semua ini bisa terwujud kalau dimulai dari hal yang paling kecil. Dari hati yang paling dalam di individu masing-masing. Semoga aku bisa membuat film ini dan memutarnya di televisi kehidupan. Semua tergantung pada aktor yang akan memerankannya, bersediakah dia dalam memainkan perannya? Apakah anda bersedia menjadi aktornya?

obrolan dibukit utara

Cuaca sejuk di sebuah bukit yang menghijau. Bukit hijau yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Daun-daun pohon pinus melambai ditiup angin yang berhembus lembut di pagi ini.
Seperti juga di bukit utara, anga angin berhembus lembut menyapa sahabatnya pino pinus di pagi ini.
“Pagi pino pinus…” sapa anga angin menghembus pino pinus sahabatnya.
“Pagi anga angin.” Balas pino pinus.
“Apakah hari ini kamu dan teman-temanmu akan bermain di tempat ini sampai siang?” tanya pino pinus.
“Mungkin hanya beberapa saja pino pinus karena sepertinya mereka akan bermain ke arah barat siang nanti.” Jawab anga angin.
“Kenapa mereka bermain disana?” tanya pino pinus.
“Katanya sih mereka ingin berkeliling ke arah barat hari ini, mungkin ingin melihat situasi disana saat ini. Mungkin… mereka akan melewati daerah ini.” ucap anga angin.
“Oh… begitu, tapi kamu masih di sini kan anga, kalau kamu dan teman-temanmu tidak bermain di sini bukit ini akan kehilangan kesejukannya.” ucap pino pinus.
“Ah… tanpa kami kalian sudah membuat bukit ini sejuk karena oksigen yang kalian keluarkan. Kami pun bisa menghembuskan kesejukan ke seluruh bukit ini karena kalian juga.” ucap anga angin.
“Tapi tetap kami membutuhkan kalian.” ucap pino pinus.
“Yeaahhh… kita bekerjasama untuk itu…” ucap anga sambil berputar di sekeliling pino pinus karena kegirangan. Dedaunan pohon pinus bergerak cepat mengikuti arah anga angin dengan ceria.
“Tapi…” anga angin berhenti berputar dan berhembus pelan di dedaunan pino pinus.
“Tapi apa?” tanya pino pinus, yang kembali melambai pelan.
“Kemaren siang aku ke arah timur…” ucap anga angin.
“Lalu?” tanya pino pinus.
“Disana beberapa temanmu pepohon sudah tidak kelihatan lagi…” ucap anga angin.
“Maksudmu? Tidak kelihatan bagaimana? Apakah di sana matahari tidak bersinar? Tapi di timur bukannya matahari pertama terbit?” tanya pino pinus penasaran.
“Bukan karena matahari tidak bersinar di sana, cuma…” ucap anga menghentikan perkataannya.
“Cuma… apa?” tanya pino pinus semakin penasaran.
“Cuma mereka sepertinya sudah ditebang oleh manusia.” ucap anga angin.
“O ya…” ucap pino pinus wajahnya terlihat sedih, dedaunanan di rantingnya sedikit melayu.
“Memang mereka pepohonan yang besar dan sudah berusia puluhan tahun. Kamu ingat pak jaka jati yang aku ceritakan ke kamu?” tanya anga angin.
“Iya, ingat…” jawab pino pinus, kembali riang.
“Aku sudah tidak menemukannya lagi disana. Padahal aku suka bermain di antara dedaunan dan rantingnya…” ucap anga angin sedih, pino pinus kembali sedih dedaunannya dihembus anga angin perlahan.
“Tapi jangan khawatir mereka bakalan menanam kembali jati kecil yang baru. Mereka cuma mengganti pohon tua dengan yang muda…” ucap pino pinus penuh harap.
“Aku pikir nggak begitu karena sampai sekarang bukit timur masih gundul… dan mulai terasa panas…” ucap anga angin.
“O ya…” ucap pino pinus.
“Aku takut kalau bukit timur akan longsor seperti bukit barat…” ucap anga angin.
“Oh… jangan sampai itu terjadi, akan kemana semua hewan di hutan ini? Mereka pasti akan ketakutan dan tidak punya tempat tinggal.” ucap pino pinus.
“Yeah… bukan hanya hewan-hewan di hutan kita tapi pemukiman dan kebun penduduk pasti terkena dampaknya.” ucap anga angin sambil berputar ke kaki pino pinus.
“Hai pak tata tanah…” sapa anga angin pada pak tata tanah yang ada di bawah pino pinus.
“Hai juga anga angin…” ucap pak tata tanah yang pendiam.
“Apa kabar hari ini pak?” tanya anga angin pada pak tata tanah.
“Baik anga angin…” jawab pak tata tanah.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya pino pinus yang cemas, obrolan anga angin dan pak tata tanah terhenti.
“Kita nggak bisa berbuat apa-apa pino pinus, kita juga nggak bisa katakan pada pak jaja hujan untuk tidak turun. Semua ada bagiannya, tugasnya.” ucap anga angin, sambil bergerak kembali ke atas.
“Kalau pak jaja hujan tidak turun, maka kamu juga tidak bisa bertahan hidup tanpa air. Seluruh alam ini akan kering dan semua pasti akan mati.” ucap anga angin.
“Iya kamu benar, tapi kalau pak jaja hujan turun sederas kemarin, bisa-bisa bukit timur akan longsor seperti bukit barat.” ucap pino pinus, anga angin kembali menghembus dedaunan pino pinus.
“Ya memang, itulah tugas kamu dan teman pohonmu yang lain pino pinus, untuk mencengkram tanah dan menjaga kestabilannya supaya jangan longsor.” ucap anga angin.
“Ya, tapi kalau semua ditebang gimana? Siapa yang akan menjaga kestabilan tanah di bukit ini.” ucap pino pinus.
“Ya, itu tugas manusia menjaga pepohonan ini. Supaya tetap berdiri tegak dan tidak ditebang, kalau pun ditebang hanya pohon yang tua kemudian harus diganti dengan pohon yang muda.” ucap anga angin.
“Iya, kamu benar manusialah yang harus menjaga kami.” ucap pino pinus masih lesu.
“Hei lihat itu… Bu wawa awan sudah mulai tebal dan menghitam, sebentar lagi pasti pak jaja hujan akan turun.” ucap anga angin.
“Iya, lihat mereka mulai menutupi pak mata matahari…” ucap pino pinus.
“Sebenarnya semua dapat dicegah kalau saja manusia-manusia itu tidak serakah, seandainya mereka menanam kembali pohon-pohon muda pengganti pohon yang sudah tua. Bukit ini pasti akan kembali menghijau dan aku beserta temanku pun pasti sangat senang bisa bermain di pucuk-pucuk pepohonan, di ranting-ranting dan daun yang menghijau.” ucap anga angin.
“Ya… dan aku bisa dengar ceritamu tentang pepohonan lain yang hidup di bukit ini.” ucap pino pinus.
“Aku dan teman pohonku yang lain bisa menjadi sarang dan tempat berlindung hewan-hewan di hutan ini. Burung-burung akan senang bermain di ranting kami dengan nyanyiannya yang merdu.” ucap pino pinus lagi.
“Kita hanya bisa berharap Tuhan membuka mata hati para manusia itu supaya tidak bertindak serakah.” ucap anga angin.
“Ya… kita hanya bisa berdoa supaya Tuhan membuka hati mereka, bukan hanya untuk keselamatan hutan kita tapi juga untuk keselamatan manusia itu sendiri…” ucap pino pinus, pak jaja hujan mulai turun perlahan.
“Halo temanku anga angin dan pino pinus…” sapa pak jaja hujan.
“Halo pak jaja hujan.” ucap pino pinus dan anga angin serentak.
“Ho ho hooo… Aku akan memberi kalian kesegaran dengan airku…” ucapnya riang sambil mengguyur pino pinus dengan airnya yang mulai deras…
“Iya pak jaja hujan… hutan akan menjadi lebih sejuk sekarang.” ucap pino pinus.
“Iya, anga angin pasti membantu menyebar kesegaran ini…” ucap pak jaja hujan.
“Iya pasti pak jaja hujan…” ucap anga angin senyum.
“Yaah… kalian jangan terlalu sedih tentang kejadian di bukit barat, semoga di bukit utara ini tidak terjadi longsor. Di sini masih banyak pepohonan, tu pino masih kuat mencengkram pak tata tanah.” ucap pak jaja hujan, pak tata tanah hanya senyum tak bicara.
“Iya pak, semoga ngak akan terjadi longsor lagi. Semoga manusia-manusia itu terbuka hatinya.” ucap pino pinus.
“Masih ada beberapa manusia yang peduli pada bukit ini, berharaplah mereka berhasil menyelamatkan bukit ini… hutan ini…” ucap pak jaja hujan.
“Yeah… aku melihat kemarin ada beberapa manusia mendatangi bukit selatan, mereka membawa beberapa pohon muda.” ucap dara angin yang sudah nimbrung aja di dekat mereka. Semua mengalihkan pandangan ke dara.
“O ya…” ucap pak tata tanah yang sedari tadi diam.
“Iya pak tata tanah, aku melihat mereka kemarin.” ucap dara angin semangat sambil menghampiri pak tata tanah, yang membuat beberapa daun yang sudah gugur di atas pak tata tanah bergerak dan terbang rendah.
“Syukurlah, semoga kan banyak manusia yang pintu hatinya di buka untuk menjaga kelestarian hutan kita ini. Hutan ini untuk kebaikan kita bersama…” ucap pino pinus sedikit ceria. Anga berhembus ke pucuk pino pinus yang bisa merasakan sedikit kelegaan pino pinus. Pucuk pino pinus melambai pelan.
“Iya, kita harus selalu berharap dan berdoa dan melakukan tugas kita dengan baik.” ucap pak jaja hujan bijak. Semua mulai tersenyum penuh harap.
“Hei… lihat teman-teman mulai mengumpul…” ucap dara angin, para teman angin sudah muncul.
“Yeah… ayo kita berkeliling, supaya semua merasakan kesejukan hujan, pohon dan angin… juga kelembutan pak tata tanah dong…” ucap anga ceria.
“Iya teman-teman, salam untuk pepohonan yang lain ya…” ucap pino pinus yang kembali ceria.
“Iya pino, nanti kami akan kembali untuk menceritakan pengalaman kami menjelajah bukit dan hutan ini…” ucap anga angin yang mengelilingi pino pinus sebagai ucapan perpisahan hari ini.
“Iya…” ucap pino riang.
“Hai…” para teman angin menyapa sambil berlalu melewati pino pinus, anga angin, dara angin, pak jaja hujan dan pak tata tanah.
“Hai…” balas pino pinus dan pak tata tanah. Pino pinus melambaikan daunnya, anga angin dan dara angin mengelilingi pino pinus dan pak tata tanah.
“Hai teman-teman…” balas anga angin dan dara angin ceria.
“Hai… para angin…” sapa pak jaja hujan.
“Ayo dara angin kita susul teman-teman kita.” ucap anga angin bersemangat melihat teman-temannya yang lebih dahulu berlalu.
“Selamat tinggal pino pinus, pak jaja hujan dan pak tata tanah…” ucap anga angin dan dara angin, lalu mereka pun berhembus menyusul teman-temannya.
“Ya…” balas pino pinus, pak jaja hujan dan pak tata tanah.
“Aku juga akan semakin menyebar nih pino, pak tata tanah. Bu wawa awan sudah mulai bergerak.” ucap pak jaja hujan, semua melihat ke bu wawa awan yang mulai bergerak.
“Iya pak jaja hujan, salam untuk bu wawa awan ya pak…” ucap pino pinus.
”Saya juga pak jaja hujan…” ucap pak tata tanah lembut.
“Iya pino pinus dan pak tata tanah…” ucap pak jaja hujan mulai bergerak pergi. Pino pinus melambai ceria. Sepeninggal pak jaja hujan, anga angin dan dara angin. Pino pinus dan pak tata tanah juga tetap melakukan tugasnya. Pino pinus dengan daun, ranting dan batangnya menghalangi pak jaja hujan langsung jatuh ke pak tata tanah sehingga permukaan tanah tak tergerus air pak jaja hujan. Dengan akarnya pino pinus mencoba menjaga kestabilan tanah di sekelilingnya, supaya tidak terjadi erosi tanah. Akar pino pinus pun juga membantu penyerapan air ke pak tata tanah dan daun-daunnya memberikan oksigen untuk sekelilingnya. Pak tata tanah memberi tempat untuk pino pinus berdiri, membiarkan sisa air pak jaja hujan mengalir masuk ke pori-pori pak tata tanah dan menyebarkan air ke sekelilingnya serta menjaga cadangan air dalam tubuh pak tata tanah. Pak tata tanah juga tak lupa memberikan nutrisi yang cukup untuk semua tanaman yang tumbuh di atasnya. Alam melakukan tugasnya… Sebaiknya kita pun begitu. Supaya alam ini dapat lestari dan menjadi tempat hidup yang aman dan nyaman bagi kita semua makhluk ciptaan Tuhan… Seperti tujuan penciptaan Dunia ini oleh Tuhan. Dunia ini milik kita bersama dan juga tanggung jawab kita bersama…

guardianteli

Dunia benar-benar kacau selama dua puluh tahun terakhir ini. Jika dilihat dari Planet Mars, maka tak ada lagi sepetak hijau yang melekat. Biru menguasai Bumi. Dua puluh tahun silam es mencair serentak, Kutub Utara dan Kutub Selatan berkolerasi, air laut pasang, menenggelamkan daratan, hanya tersisa secerca hijau yang masih pula menyisakan kehidupan bagiku dan penduduk Bumi lain yang masih bertahan.
Di Bumi sekarang ini terbagi tiga golongan besar manusia. Manusia pelindung, perusak dan manusia tak acuh yang hanya menggantungkan hidup pada nasib. Apa yang kami lindungi, rusaki atau bahkan ditak acuhkan saja? Adalah secerca hijua itu, pohon Tree Of Life. Aku adalah kaum pelindung pohon agung itu. Dengan gelar yang disematkan di belakang namaku, dengan bangga aku menyebut namaku, Ardan Guardianteli, Guardian Of ‘Tree Of Life.’
Dua hari kedepan adalah hari yang kami damba, adalah hari dimana Bumi telah mengalami 21 tahun dalam fase kerusakan fatal. Saat itulah bibit Tree Of Life yang pertama akan tumbuh, membawa harum semerbak serta harapan yang menumpuk. Bibit itu kemudian akan kami jatuhkan tepat pada titik khatulistiwa, dan akan tumbuh menjadi pulau yang baru bersama Tree Of Life yang kedua. Jadilah Bumi ini akan mendapat mahkota kedua. Begitulah yang akan terus diwarisi generasi kami, menunggu selama 21 tahun untuk memperoleh bibit baru, sampai bumi dipenuhi hijau kembali, benar-benar perjuangan.
“Hei! Itu kaum Perusak!” Ramiro berteriak keras, membuyarkan hayalanku tentang dua hari kedepan. Ia menunjuk sebelah timur samudera, terlihat buram mereka melaju kencang dengan perahu inovasi kami yang telah mereka curi. Semakin jelas wujud mereka, tiga perahu besar. Dua perahu berbendera merah, dan satunya lagi… Apa maksud Kaum Tak Acuh berbendera putih itu?
Tanpa pikir panjang, tangan kami sudah mencekal papan kayu, tombak, parang, panah, bahkan pistol bawah air yang siap menembus hati kosong mereka. Beberapa kawan lain juga sudah membimbing perahu untuk berlayar. Dengan gagah, Mento mengibarkan kain hijau. Kami siap bertugas.
Deburan ombak menjawab semangat kami, suara mesin ramah lingkungan terdengar ramah, namun tak seramah ketika bertempur melindungi pusat kehidupan yang mulai sekarat. Kami harus cepat, jarak kami dari pulau inti harus sekitar satu kilometer, tak boleh satupun bahan kimia yang boleh mencolek Tree Of Life. Rentan sekali.
Pertempuran sengit terjadi begitu saja, tanpa naskah ataupun latihan. Segera kuceburkan diriku ke dalam air, sementara yang lain bertahan beberapa menit untuk menghalau serangan, kemudian menyusul selam. Belum satu menit terbelenggu air, kaum perusak juga menyeruak permukaan air. Mereka mulai menembaki kami dengan peluru timah yang asal saja, karang-karang berhamburan, ikan-ikan melarikan diri mencari tempat lindung, benar-benar menjengkelkan mereka. Daratan sudah hancur, apa mereka juga hendak membinasakan laut? Mataku berapi, serasa hawa laut memanas. Kugerakkan kakiku dengan cepat arah vertikal, aku menjemput peluru mereka, meliuk bagai duyung, menghindar, tangan kanan memegang tombak, kuhempas tongkat mata runcing dengan beringas, tepat mengenai perut Marvent, putra Ketua Kaum Perusak.
“Bagus Guardianteli! Lakukan terus! Masih banyak dari mereka” Kapten Terre berteriak menyemangati, sudah jatuh tujuh musuh. Benar-benar sukses pertempuran kali ini. Betapa tidak, sisa dua hari lagi puncak kehidupan akan bertambah tinggi. Bibit Tree Of Life. Tak akan kami biarkan harapan itu hancur. Semakin ganas kami menyerbu, peluru-peluru mereka ditembak ganas pula, namun kami lebih terlatih, liak sana-liuk sini, mudah kami menghindar, lantas bila target sudah mengempuk, segera kami tikam, tembak atau sekadar memukul.
“Kau sudah tak bisa apa-apa lagi Tuan Perusak” ancam Kapten Terre pada Ibil, ketua Kaum Perusak. Ibil tak takut, malah sekarang tersenyum sinis di atas perahu. Ia tertawa bahak, sangat gembira terdengar.
“Dimana urat rasa kalian? Tak merasakan napas kalian tersengal sekarang?” ia menyembur pertanyaan aneh, meski memang napas kami susah terkontrol, “Dan juga tak sadar dengan raibnya kapal Kaum Tak Acuh?” ia melanjutkan.
Kami seperti tersetrum, baru menyadari keganjilan yang kami hiraukan. Kemana gerangan kapal bendera putih itu? Lalu mengapa napas kami terengah-engah seperti ini? Entah, Ibil benar-benar menanam pohon tanya pada kami.
“Tree Of Life kalian akan binasa!” Ibil bersuara tiba-tiba, segera membuncahkan rasa takut.
“Tidak mungkin!” teriak Kapten.
“Dasar bodoh, kalian pikir buat apa kami menyerang tembak saja tidak menombak atau minimal berenang ke arah kalian untuk memukul?” Ia diam, menunggu reaksi, “Kami mengulur waktu kalian. Sekarang Kaum Tak acuh dungu itu mungkin sudah setengah kerja, menyisakan setengah diameter batang Tree Of Life. Tinggal beberapa menit lagi pohon itu akan tumbang menghanguskan oksigen kalian.”
“Ah! Diam kau!” teriakku sambil membidik jantungnya, tombakku telak menembus jantungnya. Aku tersenyum jemawa melihatnya kesakitan memegang tombak yang sudah tertancap. Namun bukan darah yang mengalir keluar, kepulan asap yang bermunculan. Ia kembali tertawa, tertawa yang menjengkelkan. Dengan mudah ia menarik tombak, membuat kepulan asap bertambah pekat. Sedetik asap hilang menyisakan dada kiri yang masih utuh, hanya baju yang sobek. Kami terperangah, sihir macam apa yang dianut Ibil ini?
“Sudah kuduga sejak lama, kau adalah Iblis terkutuk!” Kapten Terre berucap pasti. Yang diteriaki memasang wajah bangga.
“Maksud Kapten?” aku memecah balon tanya. Kapten Terre tak menjawab, tetap menatap marah Ibil yang dianggapnya Iblis.
“Tak ada waktu para Pelindung! Segera kembali ke pusat Tree Of Life! Tak ada gunanya mengurusi Iblis bertubuh manusia itu”
Kapten segera berbalik badan mengunyah daun kering Pohon Kehidupan. Itu pertanda kondisi darurat. Daun kering itu sangat langka, hanya jatuh setiap satu tahun sekali dan hanya boleh digunakan pada keadaan terpaksa. Kami ikut mengunyah daun kering. Segera badan kami dipenuhi stamina. Kupijakkn kakiku pada permukaan air, lantas tanganku cepat kuayunkan ke belakang seperti hendak berlari. Maka melesatlah tubuhku seperti mengendarai ski air. Begitulah salah satu kekuatan daun kering itu, membuat kami dapat berjalan dan melesat cepat di atas air.
“Sebenarnya apa yang terjadi Kapten?” aku berhasil menyamakan posisi dengan Kapten Terre.
“Kau tau Ardan? Sudah sejak lama aku menduga kedok Ibil itu. Tidak mungkin manusia berakal ingin menghancurkan Pohon yang menyediakan mereka oksigen,” Kapten terdiam sejenak, “karena Ibil bukan manusia, dia Raja Iblis Khatulistiwa. Raja dari segala raja Iblis di dunia paceklik. Selama hidup ia terus meracuni pikiran manusia, terutama manusia Tak Acuh. Sebenarnya dulu tidak ada golongan penghancur, namun berkat ulah Ibil beserta bala tentaranya ia mencipta partai baru, Kaum Penghancur. Kaum itu adalah himpunan manusia tak acuh yang sudah menghitam hatinya, tak menyisakan titik putih karena racun goda yang sudah berlumur.”
“Lalu mengapa Ibil tidak menggoda kita saja?” aku mendaftar pertanyaan kedua.
“Karena kita adalah Guardianteli, kaum yang dekat dengan Pohon Suci yang diberkahi. Ibil tak dapat meracuni kita atau bahkan untuk sekadar meneteskan racun itu, tubuh kita otomatis melindungi. Kau pasti tidak pernah melihat Ibil mendekati kita dengan jarak satu meter bukan? Karena ia akan merasa panas bila berada lebih dekat dengan para Pelindung, bila kau memeluknya maka seutuh tubuhnya akan terbakar. Dan kau bisa lihat sediri, saat kita berbalik ia tidak mengerjar” aku tekesiap, memang Ibil tak mengejar, bahkan malah lenyap bersama asap hitam.
“Tak ada gunanya memikirkan Iblis itu. Segera percepat diri, dunia sudah diambang mati” Kapten menyudahi percakapan.
Aku mengerti, kukencangkan lagi lajuku.
Disana sudah terlihat Tree Of Life, tampak bergoyang-goyang daun rimbunnya. Aku tak dapat membayangkan kemungkinan terburuk. Manusia dapat seketika musnah begitu Pohon itu jatuh. Sepersekian menit kami tiba di pesisir pulau. Kaum Tak acuh menggerakkan kiri-kanan sebuah logam datar, mereka menggergaji batang Tree Of Life.
“Hentikan kaum bodoh!” Aku sudah berteriak lebih dulu, benar-benar membara amarahku. Namun mereka malah tak acuh denganku. Ah, benar-benar kaum tak berguna. Kapten Terre tak memperhatikan kejengkelanku, lantas turun lebih dulu menapaki tanah, segera mencekal batang tubuh mereka. Orang-orang berkulit abu-abu itu membalas dengan memutar badan dengan lincah, tampaknya mereka sudah dilatih lebih dahulu sebelum beraksi. Genggaman tangan Terre terlepas. Belum sempat mengembalikan posisi tubuh, Terre ditendang kencang ke belakang.
Hal tersebut membuat kami geram. Aku dan yang lain sudah mengangkat tombak, mengincar jantung mereka. Tombak terhempas. Sia-sia, mereka menghindar. Aduhai, obat apa yang dirasukkan dalam diri mereka. Sekarang mereka malah memungut tombak kami, lantas membelah udara dengan batang tembaga itu. Bahuku tergores, perih. Sementara Nidri, putri perkasa Kapten Terre tertusuk tepat di perutnya. Darah mengucur sudah, hatiku kian sesak.
Kaki kami terus melaju, mendekati Kaum Tak Acuh. Tak ada senjata, tak apa. Gunakan apa yang ada, walau itu hanya sengenggam udara. Perang tak dapat dibendung. Kali ini bukan pertempuran bawah laut. Baru pertama kalinya bumi ini mendapati pertempuran darat setelah hampir 21 tahun mengalami kehancuran. Benar-benar hari ini menjadi penentu.
Aku mulai tahu teknik kelahi mereka. Baik, akan kugunakan cara ini. Kuberikan kode kepada yang lain, bahasa telepati Kaum Pelindung. Mereka mengerti. Kami membiarkan mereka terus menuruti hasrat memukul. Gesit kami menghindar, seperti kadal pohon yang tetap lincah kendati pijakan pohon tiada. Lalu jika tangan kulit abu-abu itu mendekati samping telinga, segera muncul sifat ganas kami, menggigit tangan mereka, menyebarkan liur racun hasil kunyahan daun kering Pohon Kehidupan.
Mereka memundurkan langkah, mengenggam lengan mereka. Sudah terlambat, mereka akan binasa. Mereka berlutut, merunduk, seolah memeluk sakit.
“Jangan percaya Guardianteli!,” Kapten Terre berteriak tiba-tiba, sembari menghindar dari pukulan musuh lain, “itu kamuflase, mereka menjalarkan racun dari dalam tanah. Cepat ludahi tanah di sekitar kalian” Kapten memerintah. Kami mengikut saja. Terciptalah asap hitam ketika kami meludahi hamparan tanah sekitar, hampir kami mati perlahan. Itu adalah racun pamungkas Kaum Tak Acuh. Mereka dapat mengalirkan racun ke beberapa medium. Lantas mengapa racun kami tak mempan?
Belum sempat kami meretas tanya, Kaum Tak Acuh mulai menyemprotkan serbuk ungu. Racun kedua dengan medium udara. Benar-benar, Pohon Kehidupan akan bertambah sakit dengan semua bahan kimia ini. Kami hanya dapat menahan napas, dan tak henti terus melakukan penyerangan. Kami maju, namun bertarung dengan napas yang tertahan dan terengah membuat kami kewalahan. Uronas yang begitu semangat kini tumbang, serbuk itu berhasil menggerogoti pernapasannya. Satu demi satu para Pelindung jatuh merangkul harapan besar, selamatkan bumi ini.
Aku sudah tak tahan, aku mulai terbatuk lantas dijatuhi tendangan dari salah seorang musuh. Terlemparlah tubuhku. Apakah sekarang adalah giliranku? Kapten Terre tiba-tiba saja mencium kepalaku, aku tahu itu. Adalah penyaluran beberapa usia hidup. Darahku mulai menormal, suhu tubuhku mulai seimbang, dan tentu gerakanku akan lebih gesit lagi. Aku menatap Kapten Terre.
“Kenapa kau melakukannya Kapten?” kukirim telepatiku.
“Karena sesuatu hal besar ada pada dirimu” Kapten Terre tersenyum menjawab. Ia kemudian menghirup seluruh serbuk ungu itu. Kembali bening udara. Ia bejalan tersuruk mendekati Tree Of Life. Dapat kulihat jelas wajahnya. Wajah yang menampung beban yang teramat sakit. Cairan bening mengalir dari ceruk matanya. Tidak pernah ada sejarahnya Kapten Terre menangis. Kapten yang berambut hitam diselingi putih tersebut mulai membentangkan tangan, seolah memasrahkan diri. Jelas, Kaum Tak Acuh seketika berhasrat menyerang. Mereka memajukan ujung tombak dengan beringas pada tubuh Kapten, aku dan yang lain berusaha berdiri, hendak membantu, namun entah tubuh kami seperti membeku.
Tertusuk sudah tubuh Pemimpin kami, ujung-ujung tombak tampak menyembul dari tubuhnya. Aku menatap bisu, mulutku menganga kaku. Pemimpin kami dibunuh dengan ganas. Tapi kapten tak mengubah posisi, tetap membentangkan tangan. Sedetik-semenit kami dapat merasakan sakit Kapten Terre, sakit hati jikalau kehilangan satu-satunya pohon dan tentu sakit tertusuk tiga tombak dari tiga arah. Di tengah terjangan sakit, Kapten masih sempat menengok kami sambil menyemburatkan senyum simpul. Aku tak sanggup melihatnya. Lihatlah! Kapten seperti pendosa yang dihukum mati.
Entah, tiba-tiba saja cahaya seperti terbit di tubuh Kapten Terre, begitupula dengan Tree Of Life. Kaum Tak Acuh mengaduh kesakitan, teramat sakit terdengar. Sebentar sekali peristiwa itu. Tubuh anggota Kaum Tak Acuh seperti raib, tidak menyisakan bekas. Lantas cahaya itu gegas menyebar memenuhi seluruh jarak pandang kami. Silau namun menenangkan jiwa. Aku mendapat telepati, jenis telepati yang amat langka.
“Kau tahu nak, tidak sedemikian rupa aku menyalurkan setengah umurku padamu. Demikian bukan hanya usia dan energi yang tersalur, namun sekaligus darah pemimpin baru. Seharusnya pergantian pemimpin terjadi setelah munculnya benih. Tak akan ada anggota dari kaum kita yang akan dapat memimpin sebelum bibit pertama muncul. Namun ini semua di luar rencana. Dan aku melihat hal yang lebih besar darimu daripada kawanmu yang lain bahkan diriku sendiri. Maka kuberi kau darah pemimpinku, hal besar darimu itu sudah cukup untuk membantumu memimpin, maka kupilihlah dirimu wahai Ardan. Orang tua ini harus menghilangi, TAPI TETAP DI SINI.”
Habis telepati itu, cahaya menyusut cepat pada satu inti titik di tengah pulau, lantas dengan cepat kembali menyemburkan butir-butir cahaya yang indah. Membawa kedamaian dan ketenangan. Mataku basah haru, lihatlah di pusat pulau! Tree Of Life tetap menegak dengan gergaji besar dan tombak yang berserakan di sekitarnya. Tak habis pikir, perjuangan kami tidak sia-sia. Kawan lain segera menghambur saling peluk, mengacak rambut sebagai tanda kegembiraan. Tak terkecuali diriku, Mento dan Ramero melepas gembira. Kuacak keras rambut ikal Mento. Kami bersuka ria.
Di balik itu semua, keanehan masih menggantung. Kaum Tak Acuh tak menyisakan jejak walau sebatas bau amis mereka. Begitupulah Kapten Terre. Aku masih rabun fakta, apa maksudnya ‘orang tua ini harus menghilangi, tapi tetap di sini’? Apakah Kapten Terre menjelma bagian Tree Of Life yang hilang karena digesek logam raksasa? Terkaanku benar-benar luar akal.
“Kau sudah dapat telepati, Ardan?” tanya Romero yang memperbaiki rambut panjangnya, telah dililit kayu kecil oleh Mento.
“Yah, dan sepertinya kalian juga,” aku menarik napas, “Ro, aku ingin meyakini bahwa bagian Tree Of Life yang digergaji itu benar-benar adalah tubuh dan nyawa Kapten,” lanjutku. Tampak wajah Remero memaklumi.
“Tak apa kau menerka. Yang terpenting kau yakin bahwa tentu kapten akan melakukan sesuatu yang bijak. Termasuk mengangkatmu sebagai penggantinya” Romero mulai meletakkan genggaman tangan kanan di dada kiri dan tangan kirinya memeluk perut secara bersamaan. Penghormatana khas Kaum Pelindung. Kawan lain mengikut. Suasana seorang pemimpin menyergapku. Aku akan memimpin para Guardianteli dalam penangguhan bibit pertama. Kami harus menunggu 21 tahun lagi.
Kaki senja mulai menapaki Bumi, kami mengelilingi Tree Of Life. Kami berikrar akan benar-benar melindungi Pohon Kehidupan beserta nyawa Kapten Terre di dalamnya. Sore itu kami dikungkung haru. Harapan baru mulai menyala, kami rajut semangat. Duhai waktu, jalankan cepat 21 tahunmu.